Polemik Turnamen Lain Usai Piala Sudirman

Polemik Turnamen Lain Usai Piala Sudirman

Polemik Turnamen Lain Usai Piala Sudirman

Beberapa turnamen lain usai Piala Sudirman siap meramaikan dunia persepakbolaan Indonesia setelah kisruh yang mewarnai sepanjang tahun 2014-2015 lalu. Sejumlah turnamen yang sudah mengantri tersebut masih perlu dibicarakan lebih lanjut, agar tidak bentrok. Menurut juru bicara Kementrian Pemuda dan Olahraga, Gatot S. Dewa Broto, jadwal yang diajukan pihak penyelenggara cukup berdekatan. Setidaknya ada enam turnamen yang akan digelar pada beberapa bulan ke depan. Untuk itu BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) dan Tim Transisi, melakukan koordinasi guna menyusun jadwal, untuk menghindari bentrok waktu.

Enam turnamen yang akan diselenggarakan adalah Piala Bhayangkara, Marah Halim Cup, Piala Bung Karno, Piala Iman Gusman, Piala Gubernur Kalimantan Timur, dan Kompetisi Independen. Dengan demikian, jadwal turnamen yang cukup padat tersebut harus disusun sebaik-baiknya. Ini dikarenakan tim peserta dan pemain dalam tim hanya “itu-itu” saja.

Polemik Turnamen Lain Usai Piala Sudirman

Memang, setiap turnamen jumlah pesertanya berbeda, tapi menyusun jadwal tetap dipandang perlu. Tujuannya untuk melindungi pemain dan tim, selain berguna menjaga kualitas permainan dan mengundang penonton yang cukup banyak. Padahal menurut Gatot, jadwal turnamen masih bisa berubah saat kompetisi masih berjalan. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait.

Membahas mengenai kompetisi sepakbola usai Piala Sudirman, Menteri Imam Nahrawi mengungkapkan akan menggelar berbagai turnamen selama beberapa bulan ke depan. Pernyataan tersebut mengisyaratkan tertundanya liga yang diharapkan akan segera terjadi.

Beliau menyebutkan salah satu turnamen yang akan segera diadakan dalam waktu dekat adalah Piala Gubernur Kalimantan Timur. Rencananya turnamen tersebut akan dilangsungkan pada bulan Februari 2016. Klub profesional dan amatir akan ikut memeriahkan pesta sepakbola nasional tersebut.

Sayangnya, pernyataan Menpora tersebut berbanding terbalik dengan keinginan para stakeholder sepak bola Indonesia yang mengharapkan adanya kompetisi atau liga yang berkelanjutan. Menurut kabar yang beredar, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia berencana akan memboikot jika hanya turnamen yang terus dilangsungkan. Turnamen menyebabkan para pemain hanya terikat kontrak dalam jangka pendek saja.

Dari informasi yang didapatkan, PT Liga Indonesia sudah berencana menggelar Indonesia Super Competition (ISC) pada bulan Maret 2016. Namun, hingga hari ini rencana tersebut masih terganjal masalah izin dari Kemenpora dan BOPI.

Jika turnamen terus dilangsungkan tanpa ada tindakan untuk memperbaiki masalah antara Kemenpora dengan PSSI, tentunya akan berpengaruh pada perkembangan sepak bola di tanah air. Klub juara dengan masa depan gemilang akan mentok di tingkat nasional saja. Bahkan, untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi di tingkat Asia atau internasional hanya menjadi angan-angan belaka.

Sanksi FIFA yang masih dijalani sepak bola Indonesia menghentikan langkah klub di tanah air untuk tampil di AFC Cup atau Liga Champion Asia. Efek dari konflik internal ini terasa hingga ke tingkat tim nasional. Bisa dikatakan dunia sepak bola Indonesia saat ini berada di titik nadir sepanjang sejarah persepakbolaan nusantara. Ini dibuktikan dengan posisi Indonesia yang menduduki rangking 180 FIFA yang baru dirilis bulan Januari ini.

Kondisi ini dikhawatirkan semakin memperpanjang masalah yang terjadi dalam sepak bola Indonesia. Termasuk soal kontrak pemain yang semakin tidak terproteksi dengan musim turnamen yang terus berlangsung saat ini. Euforia sesaat yang terjadi saat turnamen hanya sebagai pelepas dahaga bagi para pemain, tanpa adanya jaminan karir di masa depan.

Panggung karir terbaik bagi para pemain berbakat tentunya kompetisi regular, seperti yang sudah pernah ada sebelumnya. Melihat kondisi ini dan saran para pelaku sepak bola akankah Menpora tetap menggelar turnamen yang hanya memberikan euforia sesaat, tanpa ada niat untuk memperbaiki kondisi sepak bola Indonesia.

Sebagian pemain sepak bola Indonesia sudah putus asa dengan kondisi ini. Mereka sudah tidak malu dan gengsi untuk bermain di pertandingan antarkampung. Bahkan, tidak mempermasalahkan untuk terus bermain di turnamen. Jelas hal ini salah satu dampak psikologis yang dialami sebagian besar pesepak bola Indonesia akibat kisruh internal sepak bola tanah air. Bagaimana turnamen lain usai Piala Sudirman bisa berlangsung meriah jika semangat kompetisi pemainnya sudah mulai meredup?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *